Selasa, 09 Januari 2018

Jenis-jenis Kalimat

Manusia memiliki kodrat sebagai makhluk sosial, sehingga komunikasi dengan sesama manusia pasti tidak terhindarkan setiap harinya. Salah satu media komunikasi antar perorangan adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia mampu menyampaikan pesan, gagasan, kehendak, informasi ke manusia lainnya. Bahasa memiliki berbagai satuan yang menyusunnya. Satuan bahasa terkecil dalam bahasa yang memiliki makna secara utuh adalah kalimat, namun beberapa sumber juga menyebutkan jika bagian terkecil dari bahasa adalah kata atau fasa (kumpulan kata) karena kata dan frasa juga memiliki makna meski tidak utuh. Artikel kali ini akan dibahas mulai dari pengertian kalimat, seluk beluk kalimat, jenis jenis  kalimat dan contohnya.

Pengertian Kalimat

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kalimat merupakan satuan terkecil bahasa yang mengungkapkan pikiran secara utuh secara kebahasaan, definisi tersebut diambil dari Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Untuk memaknainya secara tepat, ketika mengucapkan suatu kalimat digunakan suara yang naik – turun, lemah  – lembut, disela dengan jeda, serta intonasi di akhir kalimat. Sedang untuk memaknai kalimat tertulis, digunakan tanda baca yang mewakili  cara pengucapan atau intonasi.

Para ahli juga mengemukakan pendapatnya tentang definisi dari kalimat, salah satunya Kridalaksana. Kridalaksana mengungkapkan jika kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunya pola intinasi final, serta secara actual dan potensial terdiri dari klausa. Selanjutnya, Hal senada juga dikemukakan oleh kokt Cook, Cook  mendefinisikan sebagai suatu satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri sendiri – sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan terdir dari klausa. Sumber lain menyebutkan jika kalimat merupakan gabungan dari dua kata atau lebih yang menghasilkan sebuah pengertian dan pola intonasi akhir.

Unsur – Unsur Kalimat

Kalimat memiliki unsur unsur yang membangunnya, secara luas kita mengenal konstituen dasar pembentuk kalimat yang meliputi kata; frasa; dan klausa. Kata merupakan satuan terkecil dalam kalimat secara gramatikal. Kata dapat berdiri sendiri, maupun bergabung dengan kata – kata lain membangun struktur kalimat. Kridalakana mengungkapkan jika kata terjadi dari morfem tunggal, seperti makan, jalan, Tuhan, pergi, kembali, buah, dan lain sebagainya.

Pembentuk kalimat lain adalah frasa. Frasa sering didefinisikan sebagai kumpulan dua kata atau lebih yang tidak berciri klausa, atau tidak memiliki ciri predikat di dalamnya. Seperti halnya dengan kata, frasa juga dapat berdiri sendiri dengan kondisi sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan. Misal

Konstituen dasar pembentuk kalimat yang selanjutnya adalah klausa. Menurut Cook, klausa merupakan kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Selain itu, Dola mendefinisikan klausa sebagai satuan gramatikal yang disusun oleh kata atau frasa yang sedikitnya minimal satu predikat. Pengertian lain menjelaskan jika kalimat  merupakan kumpulan kata yang memiliki sekurang – kurangnya memiliki satu subjek dan predikat.

Contoh pembentukan kalimat :


Ayam                                                 (kata)

Ayam goreng                                    (frasa)

Saya makan ayam goreng              (kalimat)



Sebelumnya beberapa kali disebutkan istilah ‘subjek’ dan ‘predikat’. Subjek dan predikat merupakan beberapa unsur dari suatu kalimat, bila menilik lebih dalam unsur – unsur lain penyusun kalimat yang lain adalah objek dan keterangan. Agar lebih memahami apa sajakan unsur – unsur yang terdapat dalam suatu kalimat, berikut penjelasannya,

Subjek

Subjek merupakan bagian yang menunjukkan pelaku atau masalah dari suatu kalimat. Subjek pada umumnya berupa kata benda maupun frasa yang merujuk pada benda. Selain itu subjek dapat merupakan kata atau nama yang merujuk pada seseorang maupun kelompok, misal ‘aku’, ‘dia’, ‘mereka’, ‘Diana’, dan lain – lain. Selain itu, subjek akan menjawab pertanyaan tentang : ‘apa’ dan ‘siapa’.

Contoh :

Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat tahun ini.

(menjawab, “Siapa presiden terpilih Amerika Serikat tahun ini?”)

Sebuah bus  AKDP menabrak dua motor di depannya.

(menjawab. “Apa yan menabrak dua motor tadi”)

Saipah yang melakukan aksi pencurian tadi pagi, tidak lain mantan satpam di rumah itu sendiri.

(menjawab, “Siapa yang melakukan aksi pencurian tadi pagi?”)



Predikat

Predikat merupakaan bagian dasri suatu kalimat yang menyatakan suatu tindakan atau keadaan dari subjek yang dapat berupa kata maupun frasa. Predikat digunakan untuk menjawab pertanyaan: mengapa dan bagaimana.

Contoh :

Ayah sakit

(menjawab, “Ayah mengapa tidak masuk kerja?” atau “Bagaimana keadaan ayahmu?”)

Diana tidak keluar kamar seharian

(menjawab, “Bagaimana keadaannya setelah mendengar kabar itu?”)



Objek

Dalam kalimat, objek merupakan bagian yang melengkapi predikat, biasanya berupa  nomina, frasa, maupun klausa. Suatu objek dapat berubah kedudukannya menjadi suatu subjek, jika kalimat tersebut dirubah dari kalimat aktif menjadi kalimat pasif.

Contoh :

Franky menendang bola

(Franky : subjek; bola : objek)

Bola ditendang Franky

(Franky : objek; bola : subjek. “Bola” berdiri sebagai subjek karena  jika kata “Franky” dihilangkan, maka “Bola ditendang” masih dapat berdiri sebagai kalimat dan memenuhi syarat adanya subjek dan predikat)



Keterangan

Keterangan merupakan bagian kalimat yang menemberikan penjelasan lebih tentang subjek dan predikat dalam suatu kalimat, dalam menambahkan unsur keterangan maka akan disertai konjungsi atau kata hubung. Keterangan dapat berupa  keterangan alat, waktu, tujuan, cara, penyertan, penyebab, saling, dan sebagainya.

Contoh :

Ani pergi ke pasar dengan sepeda.

(Sepeda : keterangan alat; dengan : konjungsi)

Ria meninggalkan tasnya di mushola.

(Mushola : keterangan tempat; di : konjungsi)



Pelengkap

Pelengkap memberi penjelasan lebih jauh dari makna suatu kalimat. Berbeda dengan keterangan, unsur pelengkap tidak memerlukan kata hubung sebelumnya.

Julia memberikan Anna kado Boneka

(kado boneka : pelangkap)

Semua peraturan di Indonesia berdasarkan UUD 1945

(UUD 1995 : pelengkap)



Pengklasifikasian Kalimat

Kalimat memiliki beberapa jenis yang membedakannya satu sama lain. Pembagian jenis–jenis kalimat didasarkan pada 1) pengucapan; 2) jumlah frasa atau struktur gramatikal; 3) isi atau fungsi; 4) unsur kalimat; 5) pola subjek – predikat; 6) gaya penyajian; dan 7) subjeknya. Untuk memperjelas, berikut ini ulasannya.

1. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pengucapannya

Berdasarkan pengucapannya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis, yakni kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.

1.1. Kalimat Langsung

Kalimat langsung merupakan kalimat hasil kutipan dari ucapan seseorang tanpa melalui perantara dan tanpa merubah sedikitpun apa yang ia utarakan. Kalimat ini ditandai dengan penggunaan tanda petik untuk membedakan kalimat kutipan dengan kalimat penjelas.

Contoh :

“Riana akan pulang nanti sore,” Desti memberi kabar

Andriana berkata, “Aku mungkin tidak akan pulang malam ini. Besok aku beri kabar lagi.”

“Andai waktu itu ibumu ini tidak lari, Nak,” Ibu mulai bercerita, “tidak mungkin kamu bisa sampai sebesar ini. Karena kalo ibu tidak lari, kita pasti ikut hangus bersama desa kita.”



1.2. Kalimat Tidak Langsung

Kalimat tidak langsung merupakan kalimat yang menceritakan kembali isi atau pokok ucapan yang pernah disampaikan seseorang tanpa perlu mengutip keseluruhan kalimatnya.

Contoh :

Aku pernah mendengar Aisya bercerita bahwa sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan kabar perjodohan yang diatur oleh orang tuanya.

Tadi Bu Neti berpesan jika hari beliau tidak dapat masuk kelas karena suatu urusan. Namun, beliau memberikan tugas untuk mengerjakan LKS halaman 75.

Burhani mengancam tidak masuk sekolah bila ia masih merasa mendapat bully-an dari teman sekelasnya.



2. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Frasanya (Struktur Gramatical)

Dilihat dari jumlah frasanya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat tunggal (terdiri dari kalimat nominal dan kalimat verbal) serta kalimat majemuk (terdiri dari kalimat majemuk setara, majemuk bertingkat, dan majemuk campuran).

2.1. Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal merupakan kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa, yang terbentuk dari satu pola. Berikut ini pola – pola dalam kalimat tunggal beserta contohnya

NoPola KalimatKategori KataContoh1Subjek (S) + Predikat (P)Kata Benda (KB) + Kata Kerja (KK)Pendemo berorasi.Kata Benda + Kata Sifat (KS)Pemilik villa itu menakutkan.Kata Benda + Kata Bilangan (KBil)Harga sofa itu dua juta rupiah2S + P + Keterangan (K)KB + KK +(Konjungsi + Kata Benda)Ayu menari dengan gemulai.3S + P + Pelengkap (Pel)KB1 + KK + KB2Mukanya bersemu merah.4S + P + OKB1 + KK + KB2Ayah membeli roti.5S + P + O + KKB1 + KK + KB2 +(Konjungsi + KB3)Rasya menikahi gadis itu di Bali.6S + P + O + PelKB1 + KK + KB2 + KB3Ayah membelikan aku sebuah bunga.

Kalimat tunggal berdasarkan jenis predikat yang digunakan, dibagi menjadi dua yakni kalimat nomina dan kalimat verbal

Kalimat Nomina

Kalimat nomina merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata benda (kata bilangan atau kata sifat) sebagi predikat

Contoh :

Tentara itu tewas di medan perang.

Adik saya ada dua orang



Kalimat Verbal

Kalimat verbal merupakan jenis kalimat yang menggunakan kata kerja sebagai predikat.

Contoh :

Andi mengayuh sepedanya pelan.

Siska makan di kamarnya.



2.2. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk merupakan kalimat yang terdiri dari dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan. Berdasarkan kedudukan satu kalimat tunggal dengan yang lain, kalimat majemuk dibedakan menjadi kalimat majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara), bertingkat (baca : contoh kalimat majemuk bertingkat), dan campuran (baca : contoh kalimat majemuk campuran).

Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara merupakan kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal, di mana kedudukan masing masing kalimat tersebut setara. Kalimat majemuk setara dibagi lagi menjadi beberapa jenis, seperti berikut

1. Kalimat majemuk setara penggabungan, biasanya ditandai dengan penggunaan kata hubung (konjungsi) “dan” atau “serta”.

Contoh :

Saya bertanggung jawab atas kedatangan peserta hingga ke penginapan dan  Andi akan mengambil tanggung jawab tentang segala keperluan peserta sesampainya di sana.

2. Kalimat majemuk setara pertentangan, biasanya ditandai dengan kata hubung (konjungsi) “tetapi”, “sedangkan”, “melainkan”, “namun”, dan sebagainya.

Contoh :

Kelas kami akan mengadakan study tour ke Palembang, namun dia memilih untuk tidak ikut.

3. Kalimat majemuk setara pemilihan, biasanya ditandai dengan kata hubung “atau”.

Contoh :

Riana masih bingung menentukan antara ikut menemani ibunya kuliah di Jerman atau tetap tinggal di sini bersama ayahnya.

4. Kalimat majemuk setara penguatan, biasanya ditandain dengan kata hubung “bahkan”.

Contoh :

Dia memang pemuda yang cerdas, bahkan di usianya yang ke-17 ia sudah mendapatkan gelar sarjana pertamanya.

Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat merupakan kalimat yang menggabungkan dua kalimat tunggal atau lebih di mana satu sama lain memiliki kedudukan yang berbeda, yakni sebagai induk kalimat dan anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat dapat dibagi menjadi 10 jenis berdasarkan penggunaan kata hubung atau konjungsinya, yakni,

1. Waktu : “ketika”, “sejak”, “saat ini”, dsb.

Contoh :

Anak itu sudah lama hidup sendiri semenjak orang tuanya meninggal ketika dia masih bayi.

2. Sebab: “karena”, “oleh karena itu”, “sebab”, “oleh sebab itu”, dsb.

Contoh :

Tia memuntus pergi dari rumah karenaia tidak kuat lagi melihat kelakuan ayahnya.

3. Akibat: “hingga”, “sehingga”, “maka”, dsb.

Contoh :

Kebakaran hutan itu meluas hinggaasap kabut yang ditimbulkan berdampak hingga Singapura dan Malaysia.

4. Syarat: “ jika”, “asalkan”, “apabila”, dsb.

Contoh :

Ani bersedia menerima lamaran Ali, apabila kedua orang tuanya merestui hubungan mereka.

5. Perlawanan: “meskipun”, “walaupun”, dsb.

Contoh :

Meskipun diiming – imingi uang ganti rugi yang besar, warga Kampung Barang  tetap menolak dipindahkan.

6. Pengandaian: “andaikata”, “seandainya”, dsb.

Contoh :

Seandainya Risko menunggu lebih lama lagi, ia pasti akan berjumpa dengan Dewi di kafe itu.

7. Tujuan: “agar”, “supaya”, “untuk”, dsb.

Contoh:

Triana menutuskan pindah ke apartemen ini agar lebih dekat dengan kantornya.

8. Perbandingan: “bagai”, “laksana”, “ibarat”, “seperti”, dsb.

Contoh :

Budak itu jatuh cinta pada putri kerajaan bagaikan punguk yang merindukan bulan.

9. Pembatasan: “kecuali”, “selain”, dsb.

Contoh :

Dia sangat jago di semua mata pelajaran kecuali pelajaran olahraga.

10. Alat: “dengan + kata benda”

Contoh:

Orang itu pergi ke kantor dengan menggunakan mobil.

Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat majemuk setara merupakan kalimat majemuk yang menggabungkan kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk setingkat. Kalimat majemuk campuran terdiri dari sekurang – kurangnya tiga kalimat tunggal.

Contoh :

Patria sedang memasak dan Toni menonton TV di ruang keluarga, ketika aku tiba di rumah mereka.

(kata hubung “dan” menyatakan kaimat majemuk setara, kata hubung “ketika” menyatakan kalimat majemuk bertingkat.)

3. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Isi atau Fungsinya

Menurut pembagian berdasarkan isi atau fungsi suatu kalimat, kalimat dibedakan menjadi lima jenis, seperti berikut

3.1. Kalimat Berita atau Pernyataan (Deklaratif)

Merupakan kalimat yang bertujuan untuk menyampaian suatu informasi. Kalimat ini dalam penulisannya  di akhiri dengan tanda baca titik (.).Dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya memiliki intonasi yang menurun.

Contoh :

Ari tengah berlari ke hutan. (memberitahu kepastian)

Aku menolak hadir dalam acara tersebut. (memberitahu pengingkaran)

Pemain baru itu sepertinya tidak periu dikhawatirkan. (memberitahu kesangsian)



3.2. Kalimat Tanya (Interogatif)

Merupakan kalimat digunakan untuk mencari tahu suatu informasi atau jawaban atau respon dari lawan bicara. Kalimat ini dalam penulisannya di akhiri dengan tanda baca tanya (?). Contoh :

Bagaimana kabarmu hari ini?

Apakah kau sudah bertemu langsung dengan ayahnya?

Di mana kamu tinggal sekarang?

Siapa yang mengantarkanmu ke rumah tadi?

Kapan terakhir kali Anda melihat pria tersebut?

Mengapa kamu nampak ceria sekali hari ini?



3.3. Kalimat Perintah (Imperatif)

Kalimat perintah merupakan kalimat yang bertujuan untuk memberikan perintah kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam penulisannya, kalimat perintah akan diakhiri dengan tanda baca seru (!). Serta dalam pembacaannya, pada akhir kalimat biasanya digunakan intonasi yang meninggi.

Contoh :

Tolong ambilkan kertas di meja itu! (permohonan)

Jangan mendekat! (larangan)

Mari kita jaga kelestarian hutan lindung? (ajakan)



3.4. Kalimat Seruan

Kalimat seruan digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Sama seperti kalimat perintah, dalam pelafalannya pada akhir kalimat biasanya ditandai dengan intonasi yang tinggi. Dalam penulisannya, kalimat seruan juga diakhiri dengan tanda seru (!).

Contoh :

Wah, indah sekali pantai!

Hore, aku menang!



3.5. Kalimat Pengandaian

Kalimat pengandaian bertujuan untuk menggambarkan keinginan atau tujuan dari penulis atau pembicara yang belum atau tidak terwujud. Kalimat pengandaian dalam penulisannya diakhiri dengan tanda baca titik (.).

Contoh:

Andai saja aku bisa mengulang waktu kembali.

Seandainya aku menjadi dokter nantinya, aku hanya akan pergi ke daerah terpencil dan memberikan pengobatan bagi yang membutuhkan di sana.



4. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Unsur Kalimat

Dilihat dari unsur di dalamnya, kalimat dapat dibedakan menjadi dua, yakni,

4.1. Kalimat Lengkap

Kalimat lengkap merupakan kalimat yang sekurang – kurangnya terdiri atas sebuah subjek dan sebuah predikat. Kalimat majas dapat dikategorikan sebagai kalimat lengkap

Contoh:

Anak – anak   bermain   di lapangan

S                      P                   K

Ayah   membeli   mobil baru

S              P                 O



4.2. Kalimat Tidak Lengkap

Kalimat tidak lengkap merupakan kalimat yang tidak sempurna. Kalimat dengan bentuk tidak sempurna kadang hanya memiliki sebuah subjek saja, sebuah predikat, atau bahkan hanya terdiri atas objek dan keterangan. Kalimat ini biasanya digunakan untuk kalimat semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, seruan, larangan, sapaan, dan kekaguman.

Contoh:

Hei, Diana!

Rajin pangkal pandai.

Wah, indah sekali!

Terima kasih.

Selamat sore!

Tidak.



5. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Pola Subjek – Predikat

Apabila ditinjau dari struktur serta susunan atas subjek dan predikatnya, kalimat dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni,

5.1. Kalimat Versi

Kalimat versi merupakan kalimat yang sesuai dengan susunan pola kalimat dasar pada Bahasa Indonesia (S – P) atau (S – P – O – K) atau (S – P – K ) dan lain sebagainya.

Contoh:

Aku   berjalan   sejauh tiga kilometer.

S            P                       K

Diah   membeli   sepatu   di Pasar Anyer

S            P              O                     K



5.2. Kalimat Inversi

Kalimat inversi merupakan kalimat yang memiki ciri khas adanya predikat yang mendahului kata subjek. Kaliman versi biasanya digunakan untuk menyampaikan penekanan atau ketegasan makna. Kata pertama yang muncul merupakan kaa yang menjadi penentu makna kalimat sekaligus menjadi kata yang menimbulkan kesan terhadap pembaca maupun pendengarnya.

Contoh:

Bawa   gadis itu   ke hadapanku!

P             S                   K



6. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Gaya Penyajian

Berdasarkan gaya penyajiannya, kalimat dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni,

6.1. Kalimat yang Melepas

Kalimat ini merupakan kalimat yang ditulis maupun diucapkan menggunakan dengan gaya penyajian melepas. Gaya penulisan melepas ditandai dengan kalimat  majemuk di awali dengan induk kalimat atau kalimat utama serta diikuti oleh anak kalimatnya.

Contoh :

Putri tidak akan tertinggal kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang.

(“Putri tidak akan tertinggal kereta” merupakan kalimat induk, “kereta jika di jalan tadi tidak terjadi kecelekaan yang menyebabkan kemacetan panjang” merupakan anak kalimat.)



6.2. Kalimat yang Klimaks

Kalimat ini terbentuk ketika suatu kalimat majemuk disajikan dengan cara menempatkan anak kalimat di depan kalimat induknya. Kalimat ini biasanya ditandai dengan penggunaan tanda baca koma (,).

Contoh :

Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat, mungkin nyawanya masih bisa tertolong

(“Jika dia dibawa ke rumah sakit lebih cepat” merupakan anak kalimat, “mungkin nyawanya masih bisa tertolong” merupakan kalimat utama)



6.3. Kalimat yang Berimbang

Kalimat yang berimbang biasanya tersusun dalam bentuk kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk campuran. Gaya penyajian berimbang bertujuan untuk menunjukan kesejajaran bentuk dan informasinya.

Contoh :

Harga daging sapi menjelang Idul Adha melonjak, pedagang dan konsumen mengeluhkan tingginya kenaikan.



7. Pembagian Jenis Jenis Kalimat Berdasarkan Subjeknya

Jika dilihat dari subjeknya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis,yakni kalimat aktif dan kalimat pasif.

7.1. Kalimat Aktif

Kalimat aktif merupakan kalimat di mana unsur subjek di dalamnya melakukan suatu tindakan (pekerjaan). Kalimat jenis ini akan menggunakan predikat dengan awalan “me-” dan “ber-” serta predikat yang berupa kata kerja yang tidak dapat diberikan awalan “me-”, seperti mandi, pergi, tidur, dan lain sebagainya.

Contoh :

Ani pergi ke pasar.

Surya merangkak di kegelapan agar tidak terlihat musuh.



Kalimat aktif dapat dikategorikan kembali menjadi 3 jenis, yaitu,

Kalimat Aktif Transitif

Kalimat aktif ini dapat disisipi unsur objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya memiliki predikat yang berawalan “me-” dan dapat dirubah ke dalam bentuk pasif.

Contoh :

Mereka membuat peta dengan skala 1 : 1.000.000. (bentuk aktif)

Peta dengan skala 1 : 1.000.000 dibuat oleh mereka. (bentuk pasif)



Kalimat Aktif Intransitif

Kalimat aktif ini tidak memungkinkan diikuti oleh objek di dalamnya. Kalimat aktif ini biasanya menggunakan predikat yang berawalan “ber-” dan tidak dapat di rumah menjadi kalimat pasif.

Contoh :

Polisi berjaga di sekitar tempat pengeboman.

Kucingku beranak tiga.



Kalimat Semi Transitif

Kalimat ini merupakan kalimat aktif yang tidak dapat dirubah menjadi bentuk pasif karena kalimat ini diikuti oleh unsur pelengkap bukan objek.

Contoh :

Susilo Bambang Yudhoyono   menjadi  Presiden keenam Indonesia

S                              P                            Pel

Keputusan ini   berdasarkan   hasil musyawarah

S                         P                        Pel



7.2. Kalimat Pasif

Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau tindakan. Kalimat pasif biasanya memiliki predikat berupa kata kerja berawalan “di-” dan “ter-” serta diikuti kata depan “oleh”. Kalimat pasif dibedakan kembali menjadi dua bentuk, yakni,

Kalimat Pasif Biasa

Kalimat pasif ini merupakan kalimat hasil dari transformasi kalimat aktif transitif. Kalimat pasif ini memiliki predikat yang memilki imbuhan “di-”, “ter-”, “ke-an”.

Contoh:

Bola ditendang Adnan.

Kertas itu tertiup angin.



Kalimat Pasif Zero

Kalimat pasif ini memiliki objek pelaku yang berdekatan dengan objek penderita tanpa adanya sisipan kata lain. Predikat pada kalimat ini menggunakan akhiran “-kan” dan tanpa disertai awalan “di-”. Selain itu, predikatnya juga dapat berupa kata dasar dari kata kerja.

Contoh :

Akan aku tunjukan kemampuanku disini.

Akan saya sampaikan pesanmu padanya.



Sekian penjelasan jenis jenis kalimat beserta contohya. Semoga artikel ini bermanfaat.


Tanda Baca

Penggunaan Tanda Baca Menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD) – Dalam menulis tanda baca merupakan salah satu elemen yang wajib kita perhatikan. Tanda baca berkaitan erat dengan suara (fonem). Hal ini dikarenakan tanda baca mempengaruhi intonasi ketika membaca suatu tulisan dan intonasi sangat mempengaruhi intepretasi suatu kalimat (baca juga : jenis jenis kalimat).

Sering kali, kita masih dibingungkan dengan penggunaan berbagai tanda baca yang ada. Untuk itu, berikut kami berikan ulasan tentang tanda baca beserta contoh penggunaannya berdasarkan kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD).

Tanda Titik (.)

Seperti yang sudah kita ketahui, tanda titik digunakan untuk mengakhiri suatu kalimat pernyataan, namun tanda titik sebenarnya masih memiliki berbagai kegunaan lain. Di bawah ini merupakan kaidah penggunaan tanda titik menurut ejaan yang disempurnakan (EYD):

1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan.

Contoh:

Ani sedang belajar di rumah.Toni menolak pernyataan yang disampaikan oleh Budi.

Dalam penggunaan tanda titik di akhir kalimat, terdapat beberapa pengecualian sebagai berikut,

1.1. Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Misal:

Seminar Nasional Konsumen Cerdas (nama acara)Pembahasan (judul bab)Gambar 3 Struktur Sel HewanTabel 6 Keikutsertaan Indonesia di Ajang Olimpiade 1988 s.d. 2012

1.2. Tanda titik tidak digunakan pada akhir alamat penerima dan pengirim surat, serta tanggal surat.

Misal:


Kepala SD Negeri 1 Jayakarta

   Jalan Pemuda 36

   Jayakarta

   Jakarta 10320

2. Kepala Badan Eksekutif Mahasiswa

    Kampus IPB Dramaga

    Bogor

3. 30 Juni 2015

4. Jakarta, 4 November 2015



2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Contoh:

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

III. Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia

A. Penggunaan Tanda Hubung

B. Penggunaan Tanda Baca

B.1 Penggunaan Tanda Titik (.)

B.2 Penggunaan Tanda Koma (,)



Dalam penggunaan tanda titik di belakang angka atau huruf, ada beberapa pengecualian sebagai berikut,

2.1Tanda titik tidak dipergunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Misal:

(BENAR)

Teks Anekdot (baca juga : contoh teks anekdot)memiliki tujuan sebagai berikut,

(1) menyampaikan kritik atas suatu fenomena atau tokoh.

(2) menghibur pembaca.



(SALAH)

Fungsi dari bahasa nasional antara lain,

(1.) lambang nasional

(2.) identitas nasional

(3.) alat pemersatu bangsa



2.2. Tanda titik tidak dipergunakan pada akhir penomoran digital lebih dari satu angka.

Misal:

 (BENAR)

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan



(SALAH)

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Tujuan



2.3. Tanda titik tidak dipergunakan di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka pada judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Misal:

(BENAR)

        Bagan Struktur Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa

        Grafik 1.1 Distribusi Pendapatan Petani di Desa Karangmuncang

        (SALAH)

        Gambar 7. Gedung SMP Negeri 2 Wonowari

        Tabel 1.1. Kondisi Irigasi di Desa Babakan Jati

3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Contoh:

Pukul 11.25.37 (pukul 11 lewat 25 menit 37 detik atau pukul 1, 25 menit, 37 detik)23.23 (3 jam, 23 menit, 23 detik)34 (pukul 12 malam lewat 34 detik)23.49 jam (23 menit, 49 detik)00.53 jam (53 detik)

4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit untuk penulisan daftar pustaka berupa buku. Sedangkan untuk penulisan daftar pustaka dari artikel, tanda titik digunakan di antara nama penulis, tahun, judul artikel, nama jurnal, dan edisi.

Contoh:

Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.

5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Contoh:

Jumlah buku Raditya Dika yang terjual mencapai 1.000.000 eksemplar.Untuk menyelenggarakan acara tersebut, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp2.789.000.000,00.Kapasitas stadion sepak bola baru yang akan dibangun di Kota Bogor diperkirakan mampu menampung lebih dari 80.000 suporter.

Dalam penggunaan tanda titik untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya, terdapat beberapa pengecualian sebagai berikut,

5.1.Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misal:

Ayah saya lahir pada tahun 1956.Kata pungtuasi terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa halaman 1078.Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke nomor rekening 133007693928.

6. Tanda baca titik digunakan untuk singkatan gelar, baik akademik maupun kebangsawanan.

Contoh:

Siti Raminah, S.E.Otto Iskandar Dijaya, Ph.D.R.A. Kartini

Tanda Koma (,)

Berikut ini kaidah penggunaan tanda baca koma menurut ejaan yang disempurnakan:

1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

Seminar tersebut akan dihandiri oleh menteri, rektor, serta pembiacara-pembiacara yang tak kalah luar biasa.Wati, Indra, dan Siska merupakan tiga bersaudara.Lomba ini akan memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga.

2. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung (konjungsi) yang menunjukkan pertentangan, seperti tetapimelainkan,sedangkan, dan lain sebagainya dalam kalimat majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara).

Contoh:

Anita bekerja di salah satu perusahaan swasta, tetapi gaji yang ia terima jauh dibawah rata-rata.Ayahnya bukan pegawai bank, melainkan manajer di salah satu di perusahaan swasta.Ibu bertugas memasak di dapur setiap harinya, sedangkan Ani mencuci peralatan kotor yang ada.

3. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang dalam penulisannya mendahului induk kalimat.

Contoh:

Demi mencegah terjadinya tindak kenjahatan, aparat kepolisian merazia setiap kendaan bermotor yang lewat di Jalan Juanda siang itu.Karena dosen memiliki sebuah urusan, perkuliahan pada hari ini ditiadakan.Bila ia datang, maka aku memilih untuk tetap tinggal.

Sebagai catatan, untuk induk kalimat yang ditulis terlebih dahulu dari anak kalimat, maka tidak perlu ditambahkan tanda baca titik di antara keduanya.

Misal:

Kelas diliburkan karena dosen yang mengajar sedang ada urusan.Dia mendapat nilai tertinggi di ujian karena dia paling rajin ketika di kelas.

4. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat, sepertioleh karena itujadidengan demikian,sehubungan dengan itumeskipun demikian, dan lain sebagainya.

Contoh:

Rani merupakan murid dari sekolah unggulam. Oleh karena itu, orang tuanya berharap fokus untuk belajar tanpa terganggu kegiatan lainnya.Pak Salhan memang dikenal baik oleh warga sekitar. Jadi, wajar saat warga mengajukannya menjadi ketua RW di komplek tempat dingga mereka.Raihan memang kesulitan dalam hal memahami materi perkuliahan. Meskipun demikian, ia tidak pernah menyerah untuk terus belajar.

5. Tanda koma digunakan sebelum dan/atau setelah kata seru, seperti oyawahaduhhai, dan lain sebagainya. Selain itu tanda koma juga digunakan sebelum dan/atau sesudah kata sapaan, seperti BuDikKak, dan lain-lain.

Contoh:

Selamat siang, Dik! da yang bisa saya bantu?Aduh, gue lupa bawa laporan praktikum kedua.Ya, Shinta baru menyadari kemiripan kedua tas tersebut.

6. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:

Ayah berpesan, “Empat tahun dari sekarang, Ayah tunggu prestasi yang membanggakan.”“Saya berkenalan dengan Tania sekitar 4 tahun lalu.”, Diska memulai ceritanya, “Ibunya seoramg guru, sedangkan ayahnya mendekam di perjara.”“Kamu sedang apa?”, tanya Toni

7. Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah apabila ditulis secara berurutan.

Contoh:

Saudara Arya Hendrata, Jalan Beo Raya 45, Jakarta UtaraDr. Ir. Lia Mulia, M.Sc.Bukittinggi, 23 April 1987Dramaga, Bogor, Jawa Barat

8. Tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Selain itu tanda koma juga digunakan untuk memisahkan masing-masing nama apabila suatu buku atau artikel memiliki lebih dari satu penulis dalam daftar pustaka.

Contoh:

Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.

9. Tanda koma digunakan di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:

Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid  2  (Jakarta:  Pustaka Rakyat,  1950),  25.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta:  UP Indonesia,  1967),  hlm. 4.

10. Tanda koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya. Penggunaan tanda koma in bertujuan untuk membedakan gelar akademis dengan singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

Ayu Aji Putri Setia Utami, S.E., M.Agribuss.Bambang S.H.

Hanya karena sebuah tanda koma, suatu kalimat dapat memiliki arti yang sangat berbeda.

Misal:

Dara Atika, S.H. (sarjana hukum, gelar akademik) berbeda dengan Dara Atika S.H. (Setia Hasna, singkatan nama)

11. Tanda koma digunakan sebelum angka decimal atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

Jarak kota A ke kota B sekitar 14,2 km.Diana membeli gula sebanyak 3.5 kg.Ima department store memberikan harga khusus untuk semua rok yang mereka jual, yakni seharga Rp99.999,99.

12. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau aposisi.

Contoh:

Soeharto, Presiden II RI, sering disebut sebagai Bapak Pembangunan.Leiden, salah satu kota di Belanda, menawarkan pesona wisata kota tua bagi para pendatangnya.

13. Tanda koma digunakan di belakang keterangan yang terdapat pasa awal kalimat untuk menghindari salah baca atau salah pengertian.

Contoh:

Dalam rangka mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia, BEM FEM IPB mengadakan acara Bogor Art Festival.

Bila tidak menggunakan tanda koma, maka kalimat akan di atas akan menjadi, Dalam rangka mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia BEM FEM IPB mengadakan acara Bogor Art Festival,  yang sulit untuk dibaca dan dimengerti.

Tanda Titik Koma (;)

Berikut ini beberapa penggunaan tanda titik koma (;) untuk berbagai tulisan:

1. Tanda titik koma dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara lainnya dalam kalimat majemuk.

Contoh:

Ayah baru saja pulang; anak-anak masih belum tidur.Tono bertugas menyiapkan alat dan bahan; Wati bertugas membuat pudding; Cita bertugas menjual pudding yang sudah dibuat.

2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:

Di buka lowongan untuk Management Trainee, dengan kriteria sebagai berikut:

(1) lulusan S-1 dengan IPK minimal 3.00/4.00 (untuk universitas negeri) atau 3.25/4.00 (untuk universitas swasta);

(2) memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lancar, baik tertulis maupun lisan;

(3) sehat jasmani dan rohani;

(4) bersedia mengikuti program trainingselama satu tahun.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:

Berikut susunan acara untuk acara pada pagi hari ini:Pembukaan oleh MC;Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne IPB, dan Mars FEM;Sambutan Ketua Panitia; …Setiap peserta harus memilih satu barang dari payung, jas hujan, atau topi; kamera, laptop, atau smartphone; liburan ke Bali, Lombok, atau Yogjakarta.

Tanda Titik Dua (:)

Berikut ini berbagai penggunaan tanda baca titik dua menurut kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD):

1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Contoh:

Andi dan Sila mengisi rumah baru mereka dengan berbagai perabotan rumah tangga: sofa, kasur, lemari, dan sebagainya.Andi mempertaruhkan segalanya dalam tes ini karena baginya hanya ada dua pilihan: lolos tes beasiswa ke Belanda atau kembali pulang ke kampung menggarap sawah milik keluarga.

Meski digunakan dalam pemerincian, namun tanda titik dua tidak digunkan untuk penjelasan atau pemerincian yang mengakhiri suatu pernyataan.

Misal:

(BENAR)

Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan balon, gabus warna, dan juga pita hias.

(SALAH)

Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan: balon, gabus warna, dan juga pita hias.

2. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

Ketua        : Ramadhan F.N.

  Sekretaris : Riana Putri

  Bendahara: Sita Novita

3. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama atau lakon sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:

Pemuda : “Ini tidak bisa dibiakan begitu saja, Pak Kades!”

  Warga desa : “Benar sekali, Pak.”

  Pemuda       : “Sudah dua orang tewas karena kelakuan dukun santet itu, Pak!”

4. Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul, serta (d) nama koa dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh

Horizon XLII, No. 8/2008: 8Surah Al-Baqarah: 2-5Dari Pemburu ke TerapeutikAnalogi Cerpen NusantaraSatria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.

Tanda Hubung (-)

Berikut ini contoh-contoh pemakaian tanda hubung sesuai EYD:

1. Tanda hubung digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.

Contoh:

Dalam pelaksanaannya, sering kali terjadi kesalahan-kesalahan yang ti-

  dak diinginkan.

Ketika sedang mencuci di sungai, bawang putih menyelamakan seekor i-

  kan mas.

2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.

Contoh:

pura-purabolak-balikkemerah-merahan

3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang ditulis dengan angka atau menyambung huruf yang telah dieja satu per satu.

11-12-2013I-n-d-o-n-e-s-i-a

4. Tanda hubung digunakan untuk memperjelas hubungan kata atau ungkapan

Contoh:

Ber-ganti-anDua-puluh-lima ribuan (25 x 1000)Dua-puluh lima-ribuan (20 x 5000)

5. Tanda hubung digunakan untuk merangkai.

Contoh:

Se-Kabupaten, Se-JawaTengahKe-2, ke-3Tahun 2000-an, 1960-anBer-KTP, sinar-X, KTP-mu, SIM-kuD-3, S-1, S-2, S-3

Namun, tanda hubung tidak dapat digunakan di antara huruf dan angka, apabila angka tersebut menunjukkan jumlah huruf, misal BP3K; LP3I; P3K; dan ain sebagainya.

6. Tanda hubung digunakan untuk merangka unsur bahasa Indonesia dengan bahasa lain, baik bahasa daerah maupun asing.

Contoh:

Meng-uploadDi-sowan-i

7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.

Contoh:

Kata pasca- berasal dari bahasa Sansekerta.Akhiran –isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.

Tanda Pisah (—)

Berikut ini kaidah penulisan tanda baca pisah (—) yang sesuai dengan EYD,

1 .Tanda pisah dapat digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan selain yang telah disebut di bangun kalimat.

Contoh:

Rani terjatuh—saya yakin dia menangis—dari sepeda kumbangnya dan masuk ke got depan komplek.

2. Tanda pisah digunakan untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan lain.

Contoh:

Atlet sekelas Taufik Hidayat—penyabet medali emas di Yunani—harusnya mendapat apresiasi yang pantas dari negera atas usahanya mengharumkan nama bangsa Indonesia.Penemuan teori Big Bang—teori yang menyatakan bahwa semesta terbentuk atas satu ledakan maha dahsyat—telah merubah pemahaman kita terhadap alam semesta.

3. Tanda pisah digunakan antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Contoh:

23-28 Januari 2016Dari tahun 1997-2007Jakarta-Bandung

Tanda Tanya (?)

Di bawah ini merupakan contoh penggunaan tanda tanya dalam penulisan,

1. Tanda tanya digunakan di akhir kalimat tanya.

Contoh:

Kapan hari kemerdekaan Indonesia?Berapa jumlah provinsi di Indonesia?

2. Tanda tanya yang dikurung digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang disangsikan atau kurang terbukti kebenarannya.

Contoh:

Dimas Kanjeng mampu menggandakan uang (?)Ada hantu ‘Satpam Terbang’ yang berkeliaran di asrama (?)

Tanda Seru (!)

Tanda seru digunakan untuk mengakhiri kalimat yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan emosi yang kuat, kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa takjub.

Contoh:

Hidup mahasiswa!Benar-benar indah pantai ini!Deskripsikan gambar tersebut dalam satu kalimat!

Tanda Elipsis (…)

Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda elipsi sesuai dengan kaidah EYD.

1. Tanda Elipsis digunakan untuk menunjukan bahwa suatu kalimat atau kutiban ada bagian yang sengaja dihilangkan.

Contoh:

Dalam UUD 1945 disebutkan empat tujuan Negara Indonesia, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, ….Menurut … maka diprediksi dunia akan kekurangan pangan dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun lagi.

2. Tanda elipsis digunakan untuk menulis perkataan yang tidak selesai dalam dialog.

Contoh:

“Bagaimana jika kita … Bukankah itu lebih baik?”“ … Ya sudah saya ikuti apa kata mereka saja.”

Dalam penggunaan tanda elipsis, ada beberapa kaidah penulisan yang harus di perhatikan yakni,

Tanda elipsis diawali dan diikuti dengan spasi.Untuk penggunaan tanda ellipsis di akhir kalimat diikuti dengan tanda titik, sehingga tanda titik nantinya berjumlah 4 buah.

Tanda Petik (“…”)

Di bawah ini merupakan kaidah penggunaan tanda petik berdasarkan EYD.

1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, dialog, dan sejenisnya.

Contoh:

“Jam berapa ini?”, tanya Andri pada perempuan di sampingnya.Menurut Pasal 31 UUD 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan”.

2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, bab buku, dan lain-lain yang disebutkan dalam suatu kalimat.

Contoh:

Film “Dr. Strange” yang dibintangi actor Benedict Cumberbatch kini tengah merajai box office.Buatlah resensi dari novel “Laskah Pelangi”!

3. Tanda petik digunakan untuk mengapit istilah dengan arti khusus maupun istilah ilmiah yang kurang dikenal.

Contoh:

Di musim Pemilu ini, dikhawatirkan akan banyak “serangan fajar”.Praktik memberikan “amplop” kepada petugas masih sering terjadi hingga saat ini.

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Berikut ini kaidah penggunaan tanda pentik tungga sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD).

1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan di dalam petikan.

Contoh:

“Sepertinya waktuku cukup untuk membaca novel ‘Edensor’ sembari menunggu kedatanganmu tadi”, ucap Wati kesal.“Andreas, apa kau tadi juga mendengar bunyi ‘pluk’ di belakang pohon sana?”, Rey berbisik takut pada Andreas.

2. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan dari suatu kata atau ungkapan.

Contoh:

terdakwa                        ‘yang didakwa’pungtuasi                       ‘tanda baca’matur nuwun               ‘terima kasih’policy ‘kebijakan’

Tanda Kurung ((…))

Tanda kurung memiliki beberapa kegunaan dalam penulisan sehari-hari, berikut ini beberapa kegunaan kegunaan tanda kurung menurut kaidah EYD.

1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan.

Contoh:

Lembaga pengkreditan tersebut menyediakan jasa pengkreditan dengan jaminan surat bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB).Mahasiswa Agribisnis IPB sukses menyelenggarakan Lokakarya (workshop) di tujuh kecamatan berbeda di Kabupaten Kuningan.

2. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterang atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Contoh:

Keterangan tersebut (lihat Tabel 2.4) menunjukan jika tren positif investasi syariah di Indonesia dari tahun ke tahun.Artis asal Singapura itu nampak menawan dalam balutan pakaian tradisional Cina bercorak naga (mahluk mitologi Cina) di red carpet acara tadi malam.

3. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan maupun dihilangkan.

Contoh:

Ani pergi berbelanja menggunakan (bus) Kopaja.Liburan kali ini, diperkirakan akan banyak wisatawan yang mengunjungi (pulau) Bali.

4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.

Contoh:

Penentuan bauran pemasaran ini mempertimbangkan (a) product, (b) price, (c) place, dan (d) promotion.Berkas lamaran harus melampirkan

(1) Akta kelahiran,

(2) Surat berkelakuan baik dari kepolisian,

(3) Surat keterangan kesehatan yang dikeluarkan rumah sakit, dokter, ataupun puskesmah.

Tanda Kurung Siku ([…])

Tanda kurung siku mungkin jarang ditemui di teks tertulis atau naskah lainny, namun kita juga perlu tahu penggunaan tanda kurung siku menurut kaidah EYD seperti yang disebutkan dibawah ini.

1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai tanda koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan naskah asli yang ditulis oleh orang lain.

Contoh:

[Kongres Pemuda II] tanggal 28 Oktober merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Republik Indonesia sehingga diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

2. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterang dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.

Contoh:

Persamaan antara kedua hal tersebut (perbedaannya telah disebutkan di Bab II [lihat halaman 73-74]) akan dikupas pada bab ini.

Tanda Garis Miring (/)

Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda baca garis miring berdasarkan kaidah EYD.

1. Tanda garis miring digunakan dalam penulisan nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi menjadi dua tahun takwim.

Contoh:

Nomor: 023/A.1/BEMFE/XI/2016Jalan Pemuda III/10Masa bakti 2015/2016

2. Tanda miring digunakan sebagai pengganti kata danatau, serta setiap.

Contoh:

mahasiswa/mahasiswi                       ‘mahasiswa dan mahasiswi’pisang rebus/goreng/bakar              ‘pisang rebus atau goreng atau bakar’sebelum dan/atau sesudah               ‘sebelum dan sesudah atau sebelum atau sesudah’harganya Rp15.000,00/buah           ‘harganya Rp15.000,00 untuk setiap buahnya’

3. Tanda garis miring digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Contoh:

Kong/g/res Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928, pada kesempatan tersebut lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya dikumandangkan.

Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat digunakan untuk menunjukan penghilangan bagian kata atau angka tahun dalam konteks tertentu.

Contoh:

Paketnya sudah diterima, ‘kan? (‘kan berarti bukan)Libur ‘lah tiba. (‘lah berarti telah)3-3-’14 (’14 berarti 2014)

Sekian pembahasan tentang penggunaan tanda baca beserta contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat.


Sabtu, 06 Januari 2018

Laporan Utama

Ini ada tulisan bagus untuk kita  direnungkan :

Sebuah *BOTOL* 🍶
~Kalau diisi air mineral, harganya 3 ribuan...
~Kalau diisi jus buah, hargan ya 10 ribuan...
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu...
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya...

*Sama-sama dikemas dalam BOTOL tetapi berbeda nilainya, sebab "isi" yang ada di dalamnya berbeda...*

Begitu juga dgn kita; semua sama... semua manusia...

Yang membedakannya adalah; *KARAKTER* yg ada didalam diri kita.

Ilmu dan pemahaman yg benar akan membangun karakter yg benar.

*"Sukses tidak diukur dari posisi yg kita capai, tapi dari kesulitan'2 yg berhasil kita atasi ketika berusaha meraih sukses"*

_Bila kita mengisi hati, dgn penyesalan masa lalu & kekhawatiran akan masa depan, hampir pasti kita *tidak akan memiliki hari ini untuk kita syukuri.*_

_Hujan & badai akan selalu kita temui dalam perjalanan hidup, namun..._

*"Hujan besar itu seperti tantangan hidup. Tidak perlu berdoa memohon hujan berhenti, tetapi cukup berdoa agar Payung kita bertambah kuat"*

*Ingat! Umur itu seperti es batu.*
_dipakai atau tidak dipakai akan tetap mencair... digunakan atau tidak digunakan umur kita tetap akan berkurang dari "jatah" yg telah ditetapkan._

*"Selagi masih tersisa jatah usia kita, lakukanlah KEBAIKAN sebanyak yg kita mampu lakukan."*


🎯 Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:
          *1. Waktu*  
          *2. Ucapan* 
          *3. Kesempatan*    
Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal karenanya... 

🎯 Ada 3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
          *1. Amarah* 
          *2. Keangkuhan*   
          *3. Dendam*
Hindarilah ia selalu...

🎯 Ada 3 hal yang tidak boleh hilang :
          *1. Harapan    *     
          *2. Keikhlasan    *     
          *3. Kejujuran      *    
Peliharalah ketiganya...

🎯 Ada 3 hal yang paling berharga : 
          *1. Kasih Sayang *    
          *2. Cinta   *       
          *3. Kebaikan   *      
Pupuklah itu semua... 

🎯 Ada 3 hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
          *1. Kekayaan*  
          *2. Kejayaan* 
          *3. Mimpi*    
Jangan terobsesi karenanya...

🎯 Ada 3 hal yang dapat membentuk watak seseorang :         
          *1. Komitmen*         
          *2. Ketulusan*         
          *3. Kerja Keras*        
Upayakanlah sekuatnya... 

🎯 Ada 3 hal yang membuat kita sukses :
          *1. Tekad*         
          *2. Kemauan*        
          *3. Fokus*
Usahakan dengan sungguh-sungguh...

🎯 Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu :
          *1. Rejeki*         
          *2. Umur *       
          *3. Jodoh *         
Mintalah pada TUHAN.. 

🎯 TAPI, ada 3 hal dalam hidup yang PASTI :     
          *1. Tua     *     
          *2. Sakit   *       
          *3. Kematian  *
*Persiapkanlah dengan sebaik-baiknya...*